Program Terpadu Hulu–Hilir · Ridge-to-Reef
Menjaga aliran air, dari hutan hingga laut.
Ketahanan Iklim adalah program Perumda Air Minum Batiwakkal Berau untuk menghadapi, menyerap, dan pulih dari gangguan akibat cuaca ekstrem dan perubahan iklim—seperti kekeringan, banjir, serta peningkatan kekeruhan—demi menjaga kontinuitas layanan air bersih bagi masyarakat.
Satu sistem air menghubungkan Jantung Borneo, Sungai Berau–Kelai, layanan air minum perkotaan, Delta Berau, dan perairan Kepulauan Derawan.
bergantung pada layanan yang sumber air bakunya terhubung dengan DAS Berau–Kelai
masing-masing disebut melintasi koridor sungai setiap tahun dalam naskah konsep awal
menghubungkan hutan, sungai, sistem air minum, mangrove, dan terumbu karang
mengintegrasikan perlindungan sumber air dan kesinambungan pelayanan
Mengapa Ini Penting
Ketahanan layanan air dimulai sebelum air mencapai intake.
Air baku Perumda merupakan bagian dari satu perjalanan ekologis yang panjang. Gangguan di kawasan hulu, perubahan debit sungai, banjir, kekeringan, sedimentasi, dan tekanan aktivitas di koridor sungai dapat memengaruhi mutu air baku, biaya pengolahan, serta kontinuitas layanan.
Kekeringan & Penurunan Debit
Perubahan pola hujan dapat menurunkan ketersediaan air baku dan memperbesar risiko gangguan produksi.
Banjir & Kekeruhan Tinggi
Hujan ekstrem dan erosi meningkatkan sedimen, membebani proses pengolahan, serta dapat mengganggu operasi intake dan IPA.
Tekanan Ekosistem Hulu–Hilir
Tata kelola DAS dan pesisir yang berjalan terpisah dapat memutus hubungan antara perlindungan sumber air dan pemulihan ekosistem hilir.
Alur Hulu ke Hilir
Satu sungai, satu sistem ketahanan.
Timeline berikut menggambarkan hubungan antarwilayah dan intervensi program dari daerah tangkapan air hingga pesisir dan laut.
01 · Hulu
Hutan & Daerah Tangkapan Air
Ridge · Jantung Borneo
Menjaga tutupan lahan, mata air, kawasan resapan, dan fungsi ekologis daerah tangkapan air sebagai fondasi ketersediaan air baku.
Deforestasi, kebakaran lahan, perubahan pola hujan, erosi, dan berkurangnya daya simpan air.
Restorasi prioritas, konservasi berbasis kampung, pemantauan tutupan lahan, serta pembayaran jasa lingkungan berbasis kinerja.
02 · Sungai
DAS Berau – Segah & Kelay
River · Koridor Air Baku
Menghubungkan kualitas ekosistem hulu dengan ketersediaan dan mutu air yang masuk ke sistem penyediaan air minum.
Perubahan debit, sedimentasi, pencemaran, lalu lintas sungai, banjir, dan kekeruhan ekstrem.
Forum DAS multipihak, pemantauan kualitas dan debit, pengendalian erosi, pembiayaan konservasi, serta protokol peringatan dini.
03 · Sistem Air Minum
Intake, IPA & Reservoir
Treatment · Keandalan Produksi
Meningkatkan kemampuan sistem produksi untuk tetap beroperasi ketika kualitas air baku berubah atau terjadi cuaca ekstrem.
Gangguan intake, lonjakan kekeruhan, kebutuhan bahan kimia meningkat, keterbatasan listrik, dan kapasitas cadangan.
SOP keadaan darurat, redundansi pompa dan daya, cadangan bahan kimia, pemantauan real-time, serta rencana kontinuitas operasi.
04 · Pelayanan
Jaringan Distribusi & Pelanggan
Service · Kontinuitas Air Bersih
Menjaga agar gangguan iklim tidak berkembang menjadi gangguan pelayanan yang berkepanjangan bagi masyarakat.
Tekanan turun, kerusakan pipa, gangguan listrik, lonjakan kebutuhan, dan keterbatasan pasokan alternatif.
Zonasi prioritas, NRW dan DMA, pasokan tangki, komunikasi gangguan, pemetaan kelompok rentan, serta pemulihan layanan bertahap.
05 · Delta
Mangrove, Lamun & Muara
Mangrove · Penyangga Alami
Memulihkan ekosistem delta sebagai penyaring alami sedimen, penyerap karbon, dan perlindungan terhadap abrasi serta banjir pesisir.
Abrasi, hilangnya mangrove, penurunan kualitas habitat, sedimentasi, dan peningkatan muka air laut.
Restorasi mangrove dan lamun, skema karbon biru, pemantauan berbasis komunitas, dan keterhubungan dengan konservasi hulu.
06 · Laut
Pesisir & Kepulauan Derawan
Reef · Segitiga Karang
Menempatkan kesehatan terumbu karang sebagai indikator akhir dari tata kelola air dan sedimen sepanjang koridor ridge-to-reef.
Pemanasan laut, sedimentasi, kerusakan habitat, dan tekanan aktivitas pesisir.
Pengelolaan pesisir terpadu, pemantauan dampak sedimen, kawasan konservasi, edukasi publik, dan pembiayaan kolaboratif.
Pendekatan Program
Enam pilar yang bekerja sebagai satu kesatuan.
Forum DAS Multi-Pihak
Platform koordinasi lintas sektor yang menghimpun pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan mitra pembangunan.
Hulu–Hilir yang Terhubung
Pengelolaan DAS terpadu di wilayah hulu disambungkan dengan pengelolaan pesisir terpadu di wilayah hilir.
Keandalan Sistem Air Minum
Penguatan intake, IPA, reservoir, jaringan distribusi, energi, bahan kimia, komunikasi gangguan, dan rencana pemulihan layanan.
Instrumen Pembiayaan Mandiri
Mengembangkan mekanisme pembiayaan untuk pengerukan alur, restorasi hulu, pengendalian sedimentasi, dan tata kelola forum.
Komunitas sebagai Mitra Setara
Memobilisasi aset dan pengetahuan lokal serta mendorong pembayaran jasa lingkungan berbasis kinerja bagi penjaga daerah tangkapan air.
Karbon Biru sebagai Nilai Tambah
Restorasi mangrove dan lamun di Delta Berau dihubungkan dengan perlindungan kawasan pesisir dan terumbu karang di hilir.
Hasil yang Dituju
Layanan air yang lebih siap menghadapi perubahan iklim.
Sumber Air Lebih Terlindungi
Daerah tangkapan air, kualitas sungai, dan ekosistem penyangga dikelola melalui prioritas yang sama.
Operasi Lebih Adaptif
Intake, IPA, energi, bahan kimia, reservoir, dan jaringan memiliki kesiapan menghadapi skenario cuaca ekstrem.
Pemulihan Layanan Lebih Cepat
Prioritas pelayanan, komunikasi publik, pasokan alternatif, dan tahapan pemulihan telah ditetapkan sebelum krisis terjadi.
Kolaborasi yang Terukur
Peran pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan mitra konservasi dihubungkan dengan indikator hasil.
Landasan
Berpijak pada data, kebijakan, dan preseden.
Tarya dkk. (2015)
Dalam naskah konsep awal disebut sebagai bukti ilmiah keterkaitan sedimen Sungai Berau dengan kondisi perairan pesisir Kepulauan Derawan.
RPSDA WS Berau–Kelai · PUPR (2021)
Dalam naskah konsep awal disebutkan area prioritas restorasi 4.430 ha dari total 88.219 ha lahan kritis di DAS Berau–Kelai.
Kepmen PUPR No. 426/2021
Dicantumkan sebagai landasan pembentukan TKPSDA Wilayah Sungai Berau–Kelai untuk koordinasi pengelolaan sumber daya air.
Perda Kalsel No. 18/2006
Dicantumkan sebagai preseden hukum dan operasional retribusi lalu lintas sungai di Sungai Barito, Kalimantan Selatan.
Angka, nomenklatur mitra, dan rujukan pada halaman ini mengikuti naskah konsep awal Ridge-to-Reef dan perlu diverifikasi kembali sebelum publikasi resmi.
Dibangun Bersama
Kolaborasi lintas sektor dari hulu hingga hilir.
DLHK Kabupaten Berau
Mitra pemerintah dan regulasi
YALIRA
Pendampingan dan mobilisasi komunitas
YKAN / TNC Indonesia
Mitra sains dan konservasi
BPDASHL Samarinda
Dukungan teknis pengelolaan DAS
AFD & Blue Action Fund
Mitra pendanaan internasional dalam konsep awal
Sevea / BiPP SEA
Inkubasi dan pendanaan katalitik dalam konsep awal
Visi ke Depan
Dari Berau, untuk Indonesia.
Berau menaungi hutan hujan tropis di Jantung Borneo sekaligus pesisir terumbu karang Segitiga Karang. Program ini menempatkan Perumda sebagai penghubung kepentingan perlindungan sumber air baku, keandalan sistem air minum, dan pemulihan ekosistem hilir dalam satu kerangka tata kelola.
“Sungai-sungai Berau menghubungkan Jantung Borneo dengan Segitiga Karang—program ini menata kelola hubungan itu, dengan masyarakat sebagai pemilik sah masa depan tersebut.”